Setelah
saya membaca buku Prof. Dr. Slamet Moeljana yang berjudul “Menuju Puncak
Kemegahan (Sejarah Kerjaan Majapahit)” di buku tersebut memaparkan bahwa
penaklukan yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada pertama kali di Dompo, Gurun
(Lombok) dan Bali dan kerajaan terakhir yang ditaklukan oleh Patih Gajah Mada
adalah Pasundan (Jawa Barat), padahal jika kita analisa secara territorial Dompo,
Gurun, dan Bali dari Majapahit dipisahkan oleh selat lalu mengapa kerajaan-kerajaan
tersebut yang pertama kali ditaklukan oleh Majapahit, sedangkan Pasundan yang
secara tertorial lebih dekat dan tidak dipisahkan oleh selat justru yang
terakhir ditaklukan?
Setelah
saya membaca buku Prof. Dr. Slamet Moeljana yang berjudul “Menuju Puncak
Kemegahan (Sejarah Kerjaan Majapahit)” di buku tersebut memaparkan bahwa
penaklukan yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada pertama kali di Dompo, Gurun
(Lombok) dan Bali dan kerajaan terakhir yang ditaklukan oleh Patih Gajah Mada
adalah Pasundan (Jawa Barat), padahal jika kita analisa secara territorial Dompo,
Gurun, dan Bali dari Majapahit dipisahkan oleh selat lalu mengapa kerajaan-kerajaan
tersebut yang pertama kali ditaklukan oleh Majapahit, sedangkan Pasundan yang
secara tertorial lebih dekat dan tidak dipisahkan oleh selat justru yang
terakhir ditaklukan?
Kita tahu di masa lalu ada beberapa kerajaan yang sangat
terkenal di berbagai benua. Di Eropa ada Romawi, di Timur Tengah ada Mesir, di
Asia Timur ada China, di Amerika ada Inka, dan di Asia Tenggara ada Majapahit.
Nah, di sini kita akan membahas bagaimana kerajaan Majapahit bisa menguasa
Nusantara dengan gagasan sumpah mahapatihnya yaitu Gajah Mada.
Patih Gajah Mada terkenal dengan sumpah Palapanya
yang tak akan bersenang-senang sebelum dapat menyatukan Nusantara. Sebenarnya
rencana penyatuan nusantara sendiri telah lama digagas sebelum masa kejayaan
Majapahit yaitu pada masa kerajaan Singasari dengan politik perkawinannya itu.
Namun, gagasan penyatuan Nusantara itu tidak sedahsyat sumpah Palapa dalam
gagasannya menyatukan Nusantara. Memang ketika pertama kali gagasan penyatuan
Nusantara itu dikumandangkan oleh Patih Gajah Mada melalui Sumpah Palapanya itu
diragukan oleh banyak kalangan kerajaan Majapahit di antaranya Jabung Terewes,
Lembu Peteng, dan yang lainnya. Kendati demikian, Patih Gajah Mada tidak gentar
sama sekali dan tetap pada pendiriannya. Inilah Sumpah Palapa yang diucapkan
oleh Patih Gajah Mada dalam bahasa sansekerta Jawa kuno:
ring Haru, ring Paha, Dompo, ring Bali,
Palembang, Tumasik, samana insun amukti palapa"
Program politk Nusantara dari sumpah Palapa
tersebut yaitu penundukan kerajaan-kerajaan di luar wilayah Majapahit terutama
kerajaan-kerajaan di seberang lautan yakni Gurun (Lombok), Seran (Seram),
Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumata Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda,
Palembang (Sriwijaya), dan Tumasik (Singapura). Program politik Nusantara
dilaksanakan oleh Patih Gajah Mada selama 21 tahun, yakni antara tahun saka
1258 dan 1279, atau antara sumpah Nusantara dan tahun amukti palapa.